Berawal dari kesadaran kita bahwa alam semesta tak terjadi secara tiba-tiba tanpa alasan yang pasti, bukan entah siapa yang menciptakan pula bukan entah untuk apa diciptakan. Lalu Sang Pencipta hadirkan kita ke dunia. Kita, bukan aku saja atau engkau saja. Antara semesta dan aku dan antara semesta dan engkau. Antara semesta, aku dan engkau. Timbullah kesadaran baru bahwa aku diciptakan bukan sekedar untuk diriku sendiri, maka benar pesan Nabi ﷺ “Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”.
Aku sadar bahwa aku, engkau dan mereka adalah berbeda. Bukan hanya wajar namun memang sepatutnya seperti itu karena perbedaan antara kita bukan sesuatu yang harus diperselisihkan melainkan agar kita saling iqra’ antara satu dengan yang lainnya. Lalu karenanya hadirlah kesejiwaan antara kita semua menciptakan harmoni bak orchestra dengan bermacam-macam instrumennya.
Namun makna kesejiwaan bukan sekedar kita saling memahami. Ia adalah kepatuhan kita pada diri yang satu. Kita tunduk pada satu pemahaman yang sama, kita sandarkan hidup kita pada risalah yang telah disampaikan Allah dan Rasul-Nya. Lalu dengannya kita melangkah, meniti jalan yang sama. Kita bergandeng tangan bahu-membahu saling menguatkan. Kita berjalan di jalan yang lurus ini, jalan yang dilalui para syuhada, para pemegang risalah, para perindu surga. Namun jalan ini bukan jalan yang mudah bukan pula jalan yang pendek. Maka kebersamaan inilah alas an kita kuat menitinya dan memang Allah tidak meminta kita berjalan sampai ujung, Ia hanya memita kita mati di atasnya.

0 komentar:
Posting Komentar